Posts

Berhenti di Sini

Cinta kembali merapuh. Mungkin kali ini akan terus merapuh, Tak terselamatkan. Dulu begitu menggebu, Tidak peduli seberapa mengerikan halangannya, Cinta menguatkan, Memberi harapan bahwa ada jalan di depan sana, Tak perlu meragu. Pudar. Iya, cahayanya memudar. Tak kelihatan lagi apa yang hendak diraih. Cinta itu mulai terkikis. Ini kah akhirnya? Tidak. Cinta harus tetap ada. Aku yang salah. Aku yang salah menafsirkan cinta. Aku yang gegabah menempatkannya. Aku yang memaksa cinta ketika dia ingin rehat. Biar aku yang menghilang, jangan cinta. Masih ada ruang-ruang kosong di luar sana yang perlu disinari. ..tapi aku, cukup. Aku berhenti di sini.

Simpang Siur

 Merindu jalan-Mu, tapi bukan jalan ini yang hendak kulalui, Tuhan Jika harus memilih, aku ingin marah. Persetan dengan semua orang, aku tidak peduli. Toh, mereka juga tidak pernah memahami keadaanku.   Aku hanya berpura-pura mengenal-Mu Itu yang kuceritakan pada mereka, walaupun dalam hati, kusadar bahwa itu adalah sebagian kecil cerita tentang diriku yang sedang berjuang untuk mengenal Engkau, Memahami cerita-Mu dalam hidupku, Menerima takdir yang sedang Kau cipta.   Aku tidak pernah sesedih ini ketika menerima tantangan dari-Mu, Tapi bukan tantangan seperti ini yang kumau Tuhan. Aku masih belum yakin dengan diriku Masih banyak yang harus kuperbaiki. Di sela-sela melayani-Mu saja, aku masih sempat menepuk dada, Menggaungkan ke dunia bahwa aku hebat. Aku lupa siapa diriku sebenarnya. Hanya debu yang langsung menghilang saat ditiup angin. … atau, jangan-jangan sudah terlalu lama Engkau menungguku kembali, Terlalu lama menunggu komitmenk...

Percaya Saja!

4/365 Tidak ada pesan spesial malam ini. Tidak ada ungkapan romantis yang terucap dari bibir kita. Aku tahu, kita sedang berpura-pura bahagia, membuat garis melengkung di wajah seakan semuanya sedang berjalan normal. Ini bukan kali pertama kita harus berpisah setelah menghabiskan waktu bersama. Hanya saja, jeda waktu untuk kita bertemu lagi cukup meresahkan. Bukan hutungan minggu, tetapi berbulan-bulan. Anehnya, kita mau saja diperperhamba jarak dan waktu. Menerima dengan ikhlas tanpa bantahan, sedang hati menahan sendu, gelisah dan rindu. Tak apa berpisah untuk sementara waktu. Toh nantinya bisa bertemu lagi, tapi tolong, jangan tanya kapan! Cukup. Tidak usah berlama-lama menimbun sedih. Kita punya Janji yang harus dijaga, dan janji untuk membuat nyata setiap harapan kita. Aku yakin, Tuhan tidak pernah diam dengan rencana yang kita buat. Kamu juga percaya itu 'kan?! *Nusapati, 4 Januari 2023.

Tekad

  3/365 Letih. Namun itu bukan alasan untuk berhenti. Ada harapan yang terus menggebu, dan jejak yang harus dicipta, agar nantinya semua tidak raib dengan sia-sia. Ini masih awal. Bisik hati. Jangan sampai kehabisan gairah. Kuatkan tekadmu. Percaya saja padaku, j angan yang lain. Tambah hati yang tak pernah gagal memotivasi. Kamu masih bisa lebih baik dari ini. Ingat, ini bukan sementara setelah itu lenyap. Kamu akan memilikinya sepanjang masih diberi napas. Lakukanlah yang terbaik. *Nusapati, 3 Januari 2023

Jejak

2/365 Terlelap. Sekejap kuterlelap, tapi tidak merusak ingatanku tentang kita. Tentang arah yang sedang kita tempuh. Aku ingat, tadi.. kusempat meragu untuk maju. Ingin kuubah haluan dan berharap ada penunjuk jalan lain yang kutemui. Mungkin saja lebih mudah untuk dijalani dan membawa pada tujuan yang sesuai inginku. Aku juga tahu, ini belum terlambat untuk mengubah alurnya,  tapi ini sudah setengah perjalanan. Bukan, bukan setengah, tapi hampir tiba di tujuan, aku sudah memilihnya, dan ini harus kuakhiri. Kau benar. Kita harus lebih banyak memantapkan hati jika ingin melangkah, agar dapat mengukur seberapa jauh kita berjalan, agar jejak-jejak kaki yang ditinggalkan tidak cepat raib dilahap penyesalan. Semakin kita yakin, semakin mudah perjalanannya, 'kan ?! Berikan tanganmu untuk  kugenggam, agar kuyakin, kutak sendiri di jalan ini. *Nusapati, 2 Januari 2023.

Harapan

1/365 Bukan rancangan terbaik, tapi baiknya buatlah rancangan yang baik. Jika nanti gagal, kita hanya perlu merevisi, bukan membuatnya dari awal. Oya, Ini tentang kita. Harapan kita tepatnya. Sudah terlalu lama kita memendamnya, membuatnya hanya sebatas konsep, kemudian terlupakan. Sekarang, aku mau ini tidak lagi sekedar obrolan di warung kopi, Kita harus membuatnya menjadi nyata. Semoga Tuhan mengijabahkannya. Amin. Nusapati, 1 Januari 2023.

Hening

  Apa kabar cinta? Masih menderu atau mulai sepi? Tak lagi terdengar detak-detakmu, atau sengaja biar mati sekalian? Masih boleh jatuh cinta? Biar rasa tak mati dan luka tak mendera. Hening.😐

Kita Hanya Berjarak Tujuh Ratus Kilometer

Hei, ini hari pertama kita bertemu, benar-benar ketemu secara fisik setelah 3 tahun sebelumnya kita berikrar untuk menjalin hubungan. Kamu tau, ini momen paling bahagia dari semua momen saat bersamamu, karena bisa merealisasikan untuk bertemu denganmu, juga keluargamu. Kamu masih ingat, 7 bulan lalu kita sepakat untuk bertemu, tapi sayang, semesta tak mendukung, kita saling diam, mengutuk waktu, dan juga membenci diri sendiri karena bertekuk lutut pada keputusan yang mungkin saja bisa kita ubah. Ahh, lupakan. Kita sudah bersama, dan aku bahagia karena bisa menikmati pipimu yang merona merah atau tertunduk malu saat kutatap. Oya, kamu tau kenapa kubilang ini momen yang paling bahagia? Bayangkan, semua rencana sudah kusiapkan sebaik mungkin, dan yakin takkan ada yang mampu menghentikannya, tapi lagi, semesta kembali menguji. Aku tersenyum, tertawa puas mengingat perjuanganku untuk datang menemuimu. Aku bangga. Aku menang atas ujian itu. Perjalanan yang bisa ditempuh sehari, harus berubah...

Absurd

Berubah. Diksi pamungkas yang selalu saja mau menjadi kambing hitam  kala hati diliput sendu, tak lagi sejalan layaknya sepasang kekasih. Perhatian berasa ejekkan. Percakapan yang ramai, berubah sepi bak kuburan. Hampa. Bahagia memilih meninggalkan wajah.  Aku takut, ada banyak hal absurd yang telah kita lakukan bersama, hingga lupa memberi ruang bagi diri sendiri untuk terbang bebas, menikmati kehidupan tanpa kekang,  ikatan, dan entah apa lagi yang ikut menghalang bahagia. Kebosanan kemudian datang mengkudeta, memberi alasan demi alasan untuk mendepak percaya. Ego yang tadinya patuh, turut membangkang, berkhianat,  dan kita pun lupa untuk apa janji dibuat. Inikah akhir yang kita inginkan? Kita masih punya cinta untuk diselamatkan. Mungkin. Tapi siapa yang harus jadi pahlawan? Bodoh. Kita sama-sama angkuh untuk menepuk dada. Memilih pasrah. Mundur. Kecewa tertawa puas. Sudah saatnya melepas. Lupakan. Biarkan menghilang. Tak pantas dikenang. Luka, Perih, Tangis, Pata...

Prahara Cinta

Tuhan, boleh kupinjam hati-Mu dulu? Cinta mulai merapuh. Mengajak resah, sendu, dan perih untuk membenci percaya, tapi jujur menolak serta. Pesonanya kuat menarik, memikat sangat, menipu janji, membunuh setia. Saraf-saraf tak lagi kuat menahan, lelah, pasrah menanti,  mungkin sebentar lagi hancur, luluh lantak dihantam ragu. Mungkinkah ada hati baru yang 'kan Kaucipta untukku? Di dalam sana, di antara rongga-rongga tubuh, asa memberi harap, walau ragu tak ingin melepas, kuat menerjang, menggilas tanpa ampun, tak ada lagi yang tersisa. Sirna. Tuhan, akan kuapakan jujur? atauu... kuhancurkan saja agar tak ada lagi yang menghakimi, melaknat, mencaci, mengutuk penuh benci.