Kita Hanya Berjarak Tujuh Ratus Kilometer

Hei, ini hari pertama kita bertemu, benar-benar ketemu secara fisik setelah 3 tahun sebelumnya kita berikrar untuk menjalin hubungan.


Kamu tau, ini momen paling bahagia dari semua momen saat bersamamu, karena bisa merealisasikan untuk bertemu denganmu, juga keluargamu. Kamu masih ingat, 7 bulan lalu kita sepakat untuk bertemu, tapi sayang, semesta tak mendukung, kita saling diam, mengutuk waktu, dan juga membenci diri sendiri karena bertekuk lutut pada keputusan yang mungkin saja bisa kita ubah. Ahh, lupakan. Kita sudah bersama, dan aku bahagia karena bisa menikmati pipimu yang merona merah atau tertunduk malu saat kutatap.


Oya, kamu tau kenapa kubilang ini momen yang paling bahagia? Bayangkan, semua rencana sudah kusiapkan sebaik mungkin, dan yakin takkan ada yang mampu menghentikannya, tapi lagi, semesta kembali menguji. Aku tersenyum, tertawa puas mengingat perjuanganku untuk datang menemuimu. Aku bangga. Aku menang atas ujian itu.


Perjalanan yang bisa ditempuh sehari, harus berubah menjadi setengah minggu lebih. Harus melewati pengecekan kesehatan yang bikin deg-degan paripurna, pesawat yang batal berangkat, hingga rute perjalanan yang harus diubah, dan itu makin memperpanjang jarak untuk bertemu denganmu.


Menyerah? Tidak. Aku sudah bertekat untuk mendatangimu, sengaja kusembunyikan rasa letih, ketakutan, dan kuatirku saat memberimu kabar tentang perjalananku, dan kau tak henti memberi semangat padaku. Satu lagi yang bikin aku makin bersemangat menemuimu walaupun beberapa ujian harus kulewati, ini mungkin lucu, tapi harus kutuliskan agar jadi pengingat tentang pertemuan kita. Iya, pernyataan temanku, katanya "Tidak usah kecewa Syani, ini akan jadi cerita untuk anak-anakmu nanti, kalau ada banyak perjuangan yang kau lewati untuk menemui pujaan hati." Semangatku kembali terpancar, tak sabar segera berjumpa denganmu.


Setelah beberapa ujian yang kulewati, akhirnya aku bisa tiba di bandara di kotamu, yang berarti jarak kita hanya 1 setengah jam lagi. Aku masih tidak percaya kalau akhirnya bisa kembali ke kota ini, tapi kali ini lebih spesial, ada kamu yang menanti, dan aku yang rindu melepas kangen.


Saat diperjalanan, aku diserang ketakutan. Apa yang akan kukatakan pada keluargamu? Aku harus jujur atau berpura-pura? Keluargamu mau menerimaku atau nantinya mereka tidak menyukai kedatanganku? Banyak tanya menendang didada. Kembali kuyakinkan diriku, aku tak mau bersembunyi dari keluargamu, aku mau hubungan kita diketahui keluargamu, kita bukan anak-anak lagi. Aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi nanti. Dipikiranku hanya ingin segera bertemu denganmu. Itu saja.


Hari ini, aku bangun lebih awal. Masih dengan tidak percaya bahwa aku sudah bersamamu. Ahhh.. senyumanmu. Iyaa, masih teringat jelas saat aku tiba di depan pintu rumahmu, dan kau tersenyum bahagia menyambutku. Senyum yang berbeda dari sebelumnya, benar, senyum bahagia karena jarak tak lagi menjadi pemisah.


Aku mencintaimu.


Nusapati, 29 Juni 2021

Comments

Popular posts from this blog

TUHAN Masih Menulis Cerita Cinta

Untukmu yang Pernah Kupanggil "Kekasih"

Traveling? Why Not?!

Untuk Calon Jodohku

Perihal Cinta

Biografi : Yuhersyani R. Benu

Merindu

Halusinasi

Menggenggam Asa