Biografi : Yuhersyani R. Benu

"Jika nama Anda sudah ada di mesin pencari Google, maka Anda sudah terkenal." 

Itu adalah pernyataan dari dosen saya waktu masih kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Herminarto Sofyan. Dosen yang sangat berwibawa dan penyayang dengan rekam jejak yang membanggakan. Beliau sengaja mengatakan demikian untuk memotivasi saya dan teman-teman untuk mempublikasi karya-karya kami, entah buku, artikel dan tulisan lainnya ketika sudah bergelut di bidang pendidikan, yang tujuan utamanya, yaitu meningkatkan  kemampuan menulis serta membaca dan pastinya mengangkat derajat guru serta merubah minat baca masyarakat Indonesia yang masih "kritis". 

Cara berpikir saya perlahan diubah oleh pernyataan tersebut. Puisi kacangan, cerpen melankolis yang baru setengah perjalanan kemudian mentok karena minus ide, sampai tulisan dalam bentuk artikel yang belum teratur konsepnya, coba saya buat. Semua itu terlihat masih amatiran tetapi setidaknya, saya sudah memulainya dan menggunakan isi otak saya dengan baik. Sedikit berandai-andai hingga hampir menjulang namun melebur lagi, saya mulai membuat biografi saya sendiri, autobiografi tepatnya.

Biografi Yuhersyani Rohesy Benu.
Yuhersyani Rohesy. Ketika mendengar namanya, maka pikiran kita langsung mengarah pada hal yang melakolis, melow, baper yang sudah menjadi "brand"nya. Pria kelahiran Soe - NTT ini terlahir dengan nama Yuhersyani Rohesy Benu dari pasangan Hendrik M. Benu dan Amelia S. Bisinglasi. Masa kanak-kanak hingga dewasa dia habiskan di beberapa tempat, mengingat kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru yang diwajibkan mutasi ketika sudah berprestasi. Jadi, jangan heran jika dia suka berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya, entah karena pekerjaan atau hanya sekedar jalan-jalan biasa. Prestasinya sudah kelihatan sejak masih di bangku SD, juara kelas tidak lepas dari genggamannya, hingga meraih gelar akademik dengan IPK di atas rata-rata.

Awal karirnya dimulai ketika dia memutuskan untuk mengabdi di daerah terpencil sebagai seorang guru di salah satu kabupaten di NTT yang minim sarana dan prasarananya. Namun, itu semua tidak lantas mengubur bakatnya, dia mulai mengasah kemampuannya di bidang tulis menulis sebagai freelancer di satu koran lokal. Beberapa artikelnya pernah menyorot ketimpangan pendidikan di daerah terpencil khususnya di NTT. Selain artikel pendidikan, dia juga menulis puisi dan cerpen, misalnya, puisi "Apatis, cinta dalam diam", dan cerpen "Melodi di batas negeri, Cinta dalam diam", dan masih banyak karya lainnya. Dia juga memberikan pelatihan bagi masyarakat di daerah terpencil seperti kursus komputer, pelatihan kepemimpinan, dan pelatihan dibidang pertanian, yang semuanya dilakukan tanpa biaya alias gratis. Hingga saat ini beliau masih mengabdikan dirinya sebagai guru dan masih meneruskan bakatnya dibidang tulis menulis serta giat meningkatkan kemampuan masyarakat sekitar untuk terus mengoptimalkan potensi mereka.

Kira-kira begitulah biografi saya nantinya atau mungkin jauh lebih bagus dari itu. Nothing's impossible, right???

So, selagi masih diberi kesempatan untuk berkarya, kenapa harus disia-siakan? Hidup akan terasa membosankan jika datar-datar saja jalannya, keluarlah dari zona nyaman dan buatlah perbedaan di lingkungan Anda.

Met berkarya dan berbagi ilmu.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

TUHAN Masih Menulis Cerita Cinta

Untukmu yang Pernah Kupanggil "Kekasih"

Traveling? Why Not?!

Untuk Calon Jodohku

Perihal Cinta

Merindu

Halusinasi

Menggenggam Asa