Absurd

Berubah.

Diksi pamungkas yang selalu saja mau menjadi kambing hitam kala hati diliput sendu,

tak lagi sejalan layaknya sepasang kekasih.

Perhatian berasa ejekkan.

Percakapan yang ramai, berubah sepi bak kuburan.

Hampa.

Bahagia memilih meninggalkan wajah. 


Aku takut, ada banyak hal absurd yang telah kita lakukan bersama,

hingga lupa memberi ruang bagi diri sendiri untuk terbang bebas,

menikmati kehidupan tanpa kekang, ikatan,

dan entah apa lagi yang ikut menghalang bahagia.


Kebosanan kemudian datang mengkudeta,

memberi alasan demi alasan untuk mendepak percaya.

Ego yang tadinya patuh, turut membangkang, berkhianat, 

dan kita pun lupa untuk apa janji dibuat.

Inikah akhir yang kita inginkan?


Kita masih punya cinta untuk diselamatkan. Mungkin.

Tapi siapa yang harus jadi pahlawan?

Bodoh. Kita sama-sama angkuh untuk menepuk dada.

Memilih pasrah. Mundur. Kecewa tertawa puas.


Sudah saatnya melepas. Lupakan.

Biarkan menghilang. Tak pantas dikenang.

Luka,

Perih,

Tangis,

Patah,

Jatuh.


Dunia kita pun berubah. Sayonara!

Comments

Popular posts from this blog

TUHAN Masih Menulis Cerita Cinta

Untukmu yang Pernah Kupanggil "Kekasih"

Traveling? Why Not?!

Untuk Calon Jodohku

Perihal Cinta

Biografi : Yuhersyani R. Benu

Merindu

Halusinasi

Menggenggam Asa