Tuhan, Jodohku Diatur Warga +62!
Perihal jodoh memang selalu menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan, dijadikan bahan gosip jika sedang ngerumpi dan tidak dibatasi oleh umur, juga pengetahuan. Lihat saja berapa banyak artikel dan buku yang mengupas tuntas tentang jodoh, cara menemukan, memahami, dan menjalani, mengajak ke jenjang pernikahan dan judul lainnya yang bikin "nafsu" para pejuang jodoh untuk membaca artikel tersebut meningkat. Padahal perjalanan cinta masing-masing orang berbeda, jauh dari tips-tips ampuh yang dituliskan di buku dan artikel tersebut.
Ada pula yang menghubungkan jodoh dengan mitos yang belum terbukti secara ilmiah, misalnya, duduk di depan pintu atau lahir di tanggal tertentu bisa bikin jodoh makin jauh. Masakan keasinan atau yang berhasil menangkap buket bunga pengantin maka akan segera menikah. Kalaupun terjadi mungkin perbandingannya satu berbanding sekian ribu persen hihi..
Jangan mau percaya dengan mitos, jodohmu diatur Tuhan!
Lebih horor lagi jika belum menikah pada saat mencapai kepala tiga (umur 30-an), itu dianggap tabu, memalukan, tidak laku dan menunda jodoh saudaranya. Aduh, padahal hidup bukan cuma urusan jodoh saja, masih ada urusan lain yang perlu diprioritaskan.
Baca juga, Perihal Cinta
Tidak semua orang terlahir dengan perjalanan cinta yang mulus, tetapi tidak semua orang juga ingin menghabiskan banyak waktu untuk urusan cinta, toh pikirnya jodoh sudah ada yang atur, tidak mungkin tertukar. Faktanya, itu tidak bisa diterima oleh warga +62. Belum menikah, ya tetap saja tidak laku. Perlu diceramahi, perlu ikut kursus mencintai atau bahkan dijodohkan. Hadeh!
Bully-an merupakan ciri tidak kreatifnya seseorang dalam berkomunikasi
Fakta lain yang tidak kalah hot yang terjadi di dunia kerja. Musibah jika ada teman kerja yang hobinya mengupas tuntas privasi orang lain. Rasanya nafas para pejuang jodoh itu ada di tangan mereka. Bully-an dan nasehat receh pun disampaikan untuk menutupi kurang kreatifnya mereka dalam berkomunikasi. Di sisi lain, mereka yang belum menikah ini sering dijadikan sebagai kuda pacu untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang tiak diinginkan seniornya.
Seakan tidak puas karena sarannya diabaikan, warga +62 mencari celah lain untuk menyerang para pejuang jodoh, dengan menjabarkan korelasi antara usia orang tua dan anak jika telat menikah atau pun menggunakan ayat kitab suci. Lebih sadis jika yang ceramahi itu dari golongan emak-emak rempong, sarannya berapi-api dan dengan mata yang bersinar mereka menceritakan pengalaman cintanya, padahal kalau lihat kembali ke jaman mereka, pasti mereka juga dinikahkan orang tua dengan prinsip Siti Nurbaya wkwk..
Sejujurnya ada alasan lain bagi mereka yang masih setia ber-solo karier (single) yang tidak mampu diterima oleh para warga +62. Sekalipun dijelaskan, para warga +62 takkan bisa memahaminya karena niat dalam diri mereka hanya ingin mencari sensasi bukan benar-benar peduli.
Tau saja kan kalau jodoh itu cerminan diri kita? Mungkin saja ada yang harus diperbaiki sebelum datangnya si pendamping hidup. Coba bayangkan kalau tetiba Tuhan mengirimkan jodoh tapi hati kita masih hancur berantakan. Teman sehari-hari yang cuma main sebentar saja ke rumah, kita tidak enakan kalau rumahnya dalam keadaan berantakan, apalagi jodoh 'kan?!
Baca juga, Untuk Calon Pendamping Hidupku
Sejujurnya ada alasan lain bagi mereka yang masih setia ber-solo karier (single) yang tidak mampu diterima oleh para warga +62. Sekalipun dijelaskan, para warga +62 takkan bisa memahaminya karena niat dalam diri mereka hanya ingin mencari sensasi bukan benar-benar peduli.
Tau saja kan kalau jodoh itu cerminan diri kita? Mungkin saja ada yang harus diperbaiki sebelum datangnya si pendamping hidup. Coba bayangkan kalau tetiba Tuhan mengirimkan jodoh tapi hati kita masih hancur berantakan. Teman sehari-hari yang cuma main sebentar saja ke rumah, kita tidak enakan kalau rumahnya dalam keadaan berantakan, apalagi jodoh 'kan?!
Baca juga, Untuk Calon Pendamping Hidupku
Bicara tentang jodoh yang menjadi cerminan diri kita, ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh diri sendiri dan juga orang yang nantinya dipilih sebegai pasangan hidup.
Pekerja Keras
Punya pasangan yang hobinya rebahan, dan ber-halu? Astaga, Bisa madesu (Masa Depan Suram) hihi..
Punya pasangan yang hobinya rebahan, dan ber-halu? Astaga, Bisa madesu (Masa Depan Suram) hihi..
Setiap orang mendambakan pasangan hidup yang mau bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, karena itu merupakan cerminan jika dia bertanggung jawab terhadap pasangannya, keluarganya. Sebelum mendapatkan pasangan yang seperti itu, kenapa kita tidak memulai dari diri sendiri kan? Jangan sampai memilih pasangan yang mau enak-enaknya saja, tapi ketika ada susah, langsung lenyap. Bisa-bisa itu dijadikan bahan hujatan oleh warga +62 yang hobinya mengatur kehidupan orang lain. Menyesal? Telat!
Smart
Penah dengar atau baca ungkapan "Smart is the New Sexy One" (Ini bukan jargon merek motor apa gt ya! hihi..). Nah, kalau diterjemahkan, seksi itu bukan lagi soal bentuk tubuh tapi memiliki kepintaran dan kecerdasan juga termasuk kategori seksi. Bahkan ada artikel yang menulis bahwa smart adalah kemampuan untuk memenangkan pikiran seseorang sebelum memenangkan hatinya. Coba lihat Najwa Sihab atau Sri Mulyani, siapa sih yang tidak ingin memiliki pasangan seperti itu?
Coba bayangkan jika kalian menghadapi masalah tertentu dan membutuhkan saran tapi pasangan kalian tidak nyambung, atau tidak cerdas dalam mengelola keuangan, horor kan membayangkannya? Ini berlaku juga untuk pria, ya, bukan wanita saja yang harus smart.
Memiliki Dasar Iman yang Kuat
Nah, kalau yang ini wajib dimiliki. Dasar rumah tangga bukan cuma mapan dalam pekerjaan saja tapi ilmu agamanya juga. Untuk apa bisa sukses kalau tidak kenal Tuhan. Banyak anak muda yang ketika pacaran tidak melihat keimanan pasangannya, endingnya, setelah menikah dan diajak beribadah bersama pasangannya malah lebih memilih untuk rebahan. Apa kabar iman anak-anak nantinya ya?
Karakter
Badboy atau goodboy? badgilr atau goodgirl? Terserah pilihan masing-masing karena opsi tadi memiliki kelebihan dan kekurangan masin-masing, namun ada satu hal yang sama yang mereka dapat berikan. Rasa nyaman. Okelaah, senyaman apapun seseorang mampu berikan pada kalian, tapi kalau karakternya tidak bagus, mending jangan dimasukan dalam "target" jodoh. Tidak usah sok bijak dengan katakan,
"Saya siap merubahnya menjadi baik'
Haloo! Karakter itu tidak dapat diubah dalam sekejap. So, tidak usah bawa diri kalian ke jurang dengan alasan yang menipu diri sendiri. Kalaupun kalian ditakdirkan berjodoh, ya mungkin saja dia itu cerminan dirimu sendiri.
Haloo! Karakter itu tidak dapat diubah dalam sekejap. So, tidak usah bawa diri kalian ke jurang dengan alasan yang menipu diri sendiri. Kalaupun kalian ditakdirkan berjodoh, ya mungkin saja dia itu cerminan dirimu sendiri.
Nah, itu beberapa kriteria yang wajib dimiliki jika menginginkan jodoh sesuai cerminan diri kita. Tidak usah merasa tersakiti dengan ocehan para warga +62, toh nantinya kamu sendiri yang akan menjalani dan membangun rumah tangga. Iya kan??
Semangat mempersiapkan diri untuk bertemu jodoh kalian ya, para pejuang jodoh!
:)

Comments
Post a Comment