Tiga Tahun Empat Bulan
"My Dear Angel, apa kabar? Maaf sering mengabaikanmu. Ada banyak kerjaan yang harus kuselesaikan, so, aku tidak sempat menyapamu, walau pun separuh kerjaanku cuma rebahan :) Mf! Tapi.. tidak usah risau, kamu tetap yang terbaik untukku". Satu jam berlalu dan aku masih setia menulis "semua beban" yang bikin sesak di dada.
"My Dear Angel" begitu panggilanku untuk diary kesayangan yang sudah menyimpan ratusan curahan hati. Untungnya dia bukan manusia, kalau tidak, semua rahasiaku sudah dibongkarnya, apalagi aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan HP.
Hari ini, entah apa yang kurasa, tiba-tiba ingin sekali menuliskannya di diary yang kelihatannya sudah berumur, itu tampak dari sampulnya yang mulai lusuh dan sobek tapi aku belum berniat menggantinya.
Hari ini, entah apa yang kurasa, tiba-tiba ingin sekali menuliskannya di diary yang kelihatannya sudah berumur, itu tampak dari sampulnya yang mulai lusuh dan sobek tapi aku belum berniat menggantinya.
"Entahlah.." Gumamku dalam hati sambil membuka lembaran diary di tahun sebelumnya. Sesekali kutersenyum ketika membaca curhatannya, berasa tidak percaya karena mampu merangkai kalimat-kalimat melankolis, bahagia dan beberapa lirik lagu, yang entah kenapa ikut diabadikan di situ.
Sebentar... mataku menemukan sesuatu. "Astaga! Itu kan berapa tahun yang lalu, saat aku masih menjadi editor untuk buletin gereja." Ucapku pelan penuh kekagetan.
Baca cerita sebelumnya : Cerpen Saksi Keajaiban
"Bagaimana kabarnya sekarang? Sudah kerja kah dia? atau mungkin dia sudah menikah?" Ah, banyak pertanyaan berkecamuk di pikiranku, yang ku tahu, dia tidak pernah memberiku kabar setelah mengisi acara di ibadah pemuda gereja, apalagi saat itu HP-nya hilang ketika dalam perjalanan menuju gereja. Sejak saat itu, BBM, FB dan nomornya tidak aktif lagi.
"Aku harus bisa dapatkan kontaknya lagi, entah medsos atau apa pun itu." Bisikku pada diri sendiri penuh tekad dan bikin roh detektif-ku kembali aktif.
Aku mulai mengecek akun medsos menggunakan nama lengkap dan juga sapaannya, dari FB, IG dan Twitter, namun hasilnya nihil. Baru saja ku mau nyerah, tapi tiba-tiba seperti dapat bisikan malaikat aku jadi ingat kalau pernah mengirimkan sertifikat ke email miliknya, dan itu satu-satunya harapanku. Tanpa menunggu lama, kucek lagi email terkirim sambil mengucap doa dalam hati, semoga saja emailnya tidak dihapus, apalagi sudah lebih dari 3 tahun.
"Gotcha!" Teriakku girang karena emailnya masih tersimpan, "Saatnya beraksi" Ucapku sambil mengepalkan tangan untuk menyemangati diri.
Dari : metamorphosis_87@gmail.com
Kepada : witnessofgod@gmail.com
Kepada : witnessofgod@gmail.com
Subjek : Aku Merindumu..
Hai sis, apa kabar ?
Semoga kamu tidak lupa denganku. Jujur, aku merindumu dan entah harus bilang apa lagi.
Oyaa.. mf, setelah sekian tahun, hari ini baru memberimu kabar. Kamu sih, tidak pernah kabariku lagi, mana FB tidak ada aktivitas sama sekali ☹
Plis! Kalo kamu masih pake email ini, tolong balas emailku, atau kabariku lewat SMS/telpon/WA ke nomorku ini 0852-5061-7387.
Sahabatmu,
Rhz.
Send
Terkirim
"Semoga saja emailnya masih dipakai ya Tuhan dan kubisa dapatkan balasan emailnya. Amen". Doaku dalam hati.
Satu bulan kemudian.
Beep.
Satu pesan Whatsapp diterima.
"Ah, pasti dari siswa". Tebakku tanpa melihat HP. Siswa sekarang mana mau peduli dengan jam tidur malam.
Beberapa menit kemudian, lagu Like I'm Gonna Lose You milik Meghan Trainor yang kusetel sebagai nada dering telpon mengagetkanku yang lagi sibuk membaca novel Espera karya Mariana Malau dkk. Sayang, panggilan telponnya cuma sebentar.
"Nomor baru teruuus.." Ucapku geram. Pasti ulah siswa karena pesan mereka tidak direspon.
"Apa???" Aku terpaku beberapa detik setelah mengucapkan kata tadi dengan mulut masih ternganga, namun mataku tidak bisa menipu kalau ku sedang bahagia, "Thx Gooood!" Teriakku tidak mau tau kalau tetangga sebelah sudah tidur.
Dari : 085253456743
Hai Syani. Apa kabar?
Ini aq, Kezya.
Oya, mf tdk bisa balas emailmu, di tempatku susah sinyal. Nanti kukabari lagi kalo ada sinyalnya.
Ini nomor.q.
Entah apalagi kalimat yang mau kuucapkan. Ku cuma bisa bersyukur karena bisa dapatkan kontaknya lagi, dan sekarang yang ku tau dia masih mengenalku, dan juga dia baik-baik saja di sana, walaupun susah sinyal.
Ah, rasa rindu selama tiga tahun empat bulan, terbayar lunas hari ini.

Comments
Post a Comment