(cerpen) Saksi Keajaiban

Entah sudah berapa kali tombol backspace itu menjalankan tugasnya membersihkan seluruh kalimat. Kembali hanya terpampang kertas putih dengan kursor yang terus berkedip menanti perintah. Di luar sana, suara kodok dan jangkrik saling bersahut membentuk irama khas alam. Detak jam dinding pun tak kalah bersaing, mengingatkan saya bahwa sebentar lagi hari akan berganti.

Baca cerita sebelumnya : Satu Jam Empat Puluh Lima Menit

Saya masih belum menemukan ide apa yang harus ditulis untuk dimuat di rubrik "Saksi Keajaiban", di buletin "Shine" milik Gereja Siloam, tempat saya beribadah. Rubrik yang berisi tentang karya TUHAN dalam kehidupan seseorang. Eve, wanita berkaca mata itu dan partnernya Valen, terus mengirim peringatan via whatsapp yang makin membuat saya tak mampu berpikir dengan tenang.

"C'mon Syani. 2 hari lagi deadlinenya." Gumam saya memotivasi diri. "..Tapi siapa yang yang harus jadikan objek 'Saksi Keajaiban'??" Tanya saya pada diri sendiri.

Pensil di depan laptop ikut terkena imbas, saya mulai mengetuknya ke meja secara perlahan sambil membayangkan tetangga dan kenalan yang bisa diajak kerja sama agar cerita kehidupan mereka bersama TUHAN dapat saya masukan ke rubrik.

"Blom tidur kah Syani?" Suara Kak Jim mengagetkan saya.

"Blom kak. Lagi pusing mau cerita tentang siapa di artikel gereja." Jawab saya ketus

"Oh.. Itu Pak Yadi, anggota dewan atau Maria, gadis Papua yang sekarang jadi penginjil tuh, Syani." Kak Jim mengingatkan pada tetangga yang tidak sempat terpikirkan oleh saya.

"Oh yaaa.. Benar juga kak tapi.. kali ini beda kak." Balas saya dengan suara malas

"Beda bagaimana?" Tanya Kak Jim sambil mengernyitkan dahinya.

"Kali ini, orang tersebut bukan dari jemaat kita. Selain itu, dia masih muda, bertalenta, dan bisa dijadikan sebagai narasumber saat ibadat Komunitas Remaja Pemuda Kristus." Jelas saya makin gusar.

"Waduh, siapa ya? Nanti Beta ingat-ingat dulu." Balas kak Jim yang mulai sibuk dengan laptop dan laporan desanya.

"Iya kak" Jawab saya singkat lalu kembali mencoret-coret kertas HVS di atas meja, hingga suara telpon membuyarkan lamunan saya.

"Ooopss!! Kezya." Ucap saya lirih.

"Halo,  Shallom"

"Hai San. Lagi apa nih? Hmm, besok saya ada pelayanan nih tapi bete sangat malam ini. Kamu nyanyi atau cerita apa gitu yang inspiratif biar saya semangat besok." Jelas Kezya panjang lebar.

"Ihh... tidak tau sopan santun, langsung main perintah2 nih. Saya juga lagi pusing. Putar tuh mp3 sana" Jawab saya sambil ketawa. "Tumben bete? Tidak mau cerita?"

"Maaaaaf.. Kelewat kesal soalnya" Kata Kezya diantara suara tawanya. "Gini San, kamu tau kan kalau saya lagi selesaikan skripsi biar bisa wisuda tahun ini. Butuh dana, tapi abang saya blom bisa kirim uangnya. Sedangkan gaji honor blom dibagikan, sudah 3 bulan. Bayangkan Syani?" Jelasnya panjang lebar.

"Waduh.. Bagaimana ya, saya semangatinnya? Kalo soal dana, kamu tau sendiri kan kalo saya pengangguran??" Saya mencoba menghiburnya dengan lelucon

"Taaauu.. Saya juga tidak minta tolong ke kamu" Jawabnya sinis.

"Terus, masalahnya apa sekarang?" Selidik say

"Masalahnya.. kamu kapan nyanyi biar bete saya hilang? Buruan sebelum jam 12 nih!" Kezya mulai mengeluarkan jurus pamungkasnya untuk merayu saya agar bernyanyi untuknya.

"Jadi singer kah besok?" Tanya saya mengalihkan pintanya

"Iyaaa... Ahh, kapan nyanyinya, Syani? 5 menit lagi!"

"Ok. Tapi dengan satu syarat dan kamu harus menepatinya." Tawar saya yang sepersekian detik tadi langsung mendapat ide untuk artikel nanti

"Iyaa. Janji! Tapi jangan yang berat-berat!"

"Gini Zy, saya lagi punya tugas dari gereja untuk buletin nih, bikin artikel tentang orang-orang yang bertalenta dan kehidupannya di dalam TUHAN." 

"Jadi kamu mau cerita tentang saya?" Potong Kezya

"Iyaa.. tepat sekali. Kamu tinggal kirim CV dan pernyataanmu tentang karya TUHAN dalam hidup kamu. Nanti saya tunjukkan hasilnya sebelum diposting".

"Wahh... spesial dong saya. Kayak tidak ada orang lain saja." Jawabnya dengan sedikit ketawa

"Plis Zy. Ini 2 hari lagi deadlinenya. Kapan lagi kan kamu bersaksi tentang Kristus??!" Rayu saya

"hmm.. iya. Bolehlah, untuk kemuliaan Kristus.!" Jawabnya tegas dan bersemangat.

"Yeeeyy.. Thanks ya Zy. You save my job!" Teriak saya gembira.

"CUKUP." Kata Kezya membatasi rasa bahagia saya. "Sekarang nyanyi karena saya harus tidur".

"Ok, saya tunggu CV-nya besok ya Zy?! Oya, Saya nyanyi lagu kebangsaan kita ya, Remind Me Who I Am?"

"Iya boleh! Buruan." Balas Kezya pelan

3 menit kemudian, saya sudah menyelesaikan lagu yang dinyanyikan Jason Gray itu. Kezya berjanji akan bersemangat saat menjadi singer dan mengirim file-nya. Saya menyemangatinya lewat doa singkat dan mengucapkan selamat tidur sebelum dia menutup telponnya.

"Puji TUHAN, satu keajaiban lagi saat deadline" Gumam saya gembira karena dimudahkan TUHAN untuk menyelesaikan tugas saya. 

Lagi, gadis itu mengingatkan saya akan pertolongan TUHAN yang selalu tepat waktu. Ya, gadis kidal dengan gitarnya, Kezya!

Comments

Popular posts from this blog

TUHAN Masih Menulis Cerita Cinta

Untukmu yang Pernah Kupanggil "Kekasih"

Traveling? Why Not?!

Untuk Calon Jodohku

Perihal Cinta

Biografi : Yuhersyani R. Benu

Merindu

Halusinasi

Menggenggam Asa