Satu Jam Empat Puluh Lima Menit
Jam dinding yang terpajang di sebelah kanan altar utama menunjukkan pukul 6.50, berarti 10 menit lagi kebaktiannya dimulai. Sambil menunggu, saya putuskan untuk membaca liturgi pra Paskah yang dibagikan oleh User. Baru sekejap membacanya, seorang gadis mengagetkan saya,
"Shallom.." Katanya sambil tersenyum.
Saya membalas senyuman dan ucapan yang sama lalu sedikit bergeser ke belakang untuk memberinya ruang agar dapat menduduki kursi di sebelah saya. Gadis itu langsung menutup mata sebentar dan berdoa seperti yang sering saya dan orang2 lakukan ketika memasuki ruang kebaktian.
"Kezya. Kamu?"
"Syani"
"Kamu jemaat di gereja sini?"
"Tidak, saya jemaat tamu. Saya memilih beribadat di sini karena jam kebaktiannya lebih awal. Kalau kamu?" Jelas saya kemudian balik bertanya.
"Samalah kita, jemaat tamu. Kebetulan saya dan teman2 ada kegiatan dekat sini jadi saya ikut kebaktian di gereja ini."
"Oh, kegiatan apa? Sendirian kah?" Selidik saya.
Belum sempat Kezya menjawab, seorang majelis gereja sudah berdiri di altar dan mengajak jemaat untuk memulai kebaktian.
Saya menikmati kebaktian pagi ini, dan lagi sangat tersentuh dengan khotbah ibu gembala yang menikberatkan isi khotbahnya pada hal "Kasih" yang terambil dalam Kitab 1 Korintus 13 : 1 - 13. Saya diingatkan akan masa lalu saya yang kelam, air mata mulai menggenang di pelupuk mata, saya menahannya agar tidak sampai menetes, bisa malu saya dengan orang di sebelah kanan kiri jika melihatnya.
30 menit berlalu, ibu gembala mengakhiri khotbahnya. Sedangkan saya masih merenungkan khotbah tadi dengan kepala tertunduk.
"Diberi kesempatan kepada solo Kezya untuk memuji nama TUHAN."
Suara ibu gembala mengagetkan saya. Ternyata Kezya, gadis yang sebelah saya akan menyumbangkan lagu. Lagi-lagi dia tersenyum pada saya yang masih bengong melihatnya berjalan ke depan. Saya penasaran, lagu apa yang akan dia nyanyikan. Lagi, masih dengan senyumannya dia mengambil gitar dan memainkan.
"Seperti.. mentari yang bersinar.." Kezya mulai bernyanyi dengan suaranya yang merdu diiringi petikan suara gitar.
Secara refleks, saya ikut bernyanyi. Lagu yang dinyanyikan Judika itu, benar2 mengingatkan saya akan kasih TUHAN yang tak terbatas, sayang, saya selalu mempermainkan-NYA. Kezya terus memuji TUHAN dengan semangatnya. Sejujurnya, saya kagum padanya, dia menggunakan semua bakat dan talentanya untuk memuliakan TUHAN, sempurna.
5 menit berselang, Kezya sudah menyelesaikan pujiannya, meletakan gitar dan berjalan ke arah tempat duduk, masih di sebelah saya tepatnya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu ambil bagian di liturgi pagi ini?" Bisik saya ketika Kezya sedang membetulkan posisi duduknya.
"Kalau saya beritahu, itu tidak akan jadi kejutan buat kamu" Balasnya dengan senyum lebar khasnya.
Saya hanya melihatnya sinis, dan memberi kode agar permbicaraannya dilanjutkan setelah kebaktian.
"Tadi tuh seru sangat pujiannya. 2 jempol buat kamu." Kata saya sambil mengacungkan 2 jempol padanya ketika kebaktian berakhir.
"Makasih untuk pujiannya. Itu karena TUHAN YESUS, Syani." Balasnya merendah.
"Oh iyaa. TUHAN YESUS dahsyat dan bangga miliki kamu." Puji saya lagi.
"Nah gitu, Syani. Makasih lagi yaaa.." Ucap Kezya. "Oh ya, saya tinggal di Kupang, nanti main2 ke rumah saya ya, Syani." Pintanya.
"Okeeh, dengan senang hati. Makasih undangannya" Jawab saya senang. "Tapi hubungi lewat apa nih, kalau saya di sana?" Tanya saya pura2 bego.
"Oh iyaa... hmm, bagaimana kalau kamu cari akun Facebook saya? Kalau ketemu, kamu inbox pake kata sandi nama gereja ini?" Tantang Kezya.
"OK, siapa takut. Tapi kasih clue dulu. DP Facebook, kamu pakai baju apa biar tidak nyasar ke orang lain?" Tanya saya berdalih agar dipermudah mencarinya.
"hmm,, apa ya ?" Kezya berpura-pura lupa. "Saya pakai kemeja biru kotak-kotak dengan tas hijau dipangkuan. Cukup kan?" Jelas Kezya tegas dengan sebelah alisnya diangkat lebih tinggi.
"Iya, cukup. Itu sudah sangat membantu." Ucap saya yang merasa lucu melihat tingkahnya.
"Saya pergi dulu ya, teman2 sudah menunggu tuh. Saya tunggu inbox kamu, Syani. Shallom." Ucap Kezya sambil berlalu pergi.
Saya melambaikan tangan dan terus melihatnya hingga hilang dipojokan pintu gereja.
Saya pun ikut beranjak keluar dari gedung gereja dan bersyukur pada TUHAN karena diingatkan untuk selalu menebar kasih ke orang lain, rendah hati, dan mau menerima orang lain apa adanya.
"Satu jam empat puluh lima menit yang luar biasa. Thanks God!" Gumam saya.

Comments
Post a Comment