Senandung Kelinci, Si Laskar Pembebas Keterbelakangan


Guru, profesi yang tidak pernah terlintas dalam pikiran kami, apalagi menggeluti materinya, dijamin bikin jenuh. Bahkan ketika ditanya akan jadi apa kami nanti, tidak sedikit pun jawabannyaa bersinggungan dengan profesi tersebut, kalau pun ada maka si pemilih tersebut akan di-bully. Bagaimana tidak, seorang ahli pertanian yang setiap harinya didoktrin untuk menjadi wirausaha ternama, jika tidak jadi wirausaha, setidaknya bisa membuat perubahan dibidang pertanian, malah memiliki impian menjadi guru, berdiri di depan kelas dengan puluhan mata menatap dan mendengarkan ceramah yang "Wah" dan semua hanya berakhir di dalam kelas, jika ada "dana" maka semua itu akan diwujudnyatakan.

Inikah karma bagi kami yang akhirnya terpilih menjadi guru karena mem-bully profesi tersebut atau takdir kami sengaja dibelokan oleh Sang Pencipta Hidup agar kami juga memahami betapa "sakitnya" saat mendidik???

Tidak. Ini panggilan jiwa!.

Mereka memilih kami karena jiwa tulus yang terpancar dari dalam diri kami untuk dididik dan dibentuk dengan satu tujuan yaitu dapat menularkan ilmu yang telah tertanam dalam otak kami untuk mencerdaskan anak bangsa yang kata mereka dan sesuai fakta, masih terbelakang, bukan saja pengetahuan tapi juga karakternya.

Sejenak menoleh ke belakang, betapa bangganya kami kala terpilih sebagai laskar pembebas keterbelakangan, tak ada rasa penyesalan yang terlihat diwajah. Bahagia? Iya, pastinya. Siap bertempur? Sangat siap.

Ibarat laskar pembela tanah air berbaju hijau coret-coret, tidak ada ketakutan lagi ketika mereka menakuti dengan banyak tantangan di depan sana. Apa yang kami akan takutkan, bukankah doktrin yang mereka berikan itu lebih mematikan ketimbang tantangan di medan yang mereka sebut sekolah itu?!

Tekat kami telah bulat, keterbelakangan pengetahuan dan karakter yang sudah tertanam pada anak bangsa harus dipulihkan. Tidak ada kata terlambat. Sekarang saatnya, bukan nanti.

Kini, setelah kami dipulangkan dari "medan perang", mereka mulai risau, sengaja tidak mengingat kami. Membiarkan kami berkoar pada dunia bahwa kami adalah laskar pembebas keterbelakangan yang sudah teruji. Adakah yang peduli? Tidak. Sepi.

Dimana mereka yang dulu mendoktrin kami untuk memiliki jiwa yang tulus?
Dimana mereka yang dikenal karena dedikasinya?
Dimana mereka yang dulu memuji kami?
Itukah wujud asli kalian?
Hanya menciptakan, memprogramkan setelah itu melepaskan tanggung jawab dan menghilang tanpa bekas?

Kami mengerti sekarang. Kami hanyalah separuh dari kelinci yang diciptakan untuk diuji coba. Entah berhasil atau tidak, kami harus melewati ujian tersebut.

Kecewakah kami? Sangat. Marahkah kami? Pastinya. Inikah akhir dari perjuangan kami? Tidak.

Kami bukan kelinci pesimis yang setelah dicuci otaknya kemudian menjadi bodoh dan pasrah pada semua yang terjadi. Kami sedang bermetamorfosis ke arah yang lebih baik. Kalian telah membuka mata kami untuk memandang dunia yang sebenarnya. Semua sudah terjadi walau kami tak menginginkannya.

Pesan kami, ingatkan bila satu hari nanti kami tak lagi memiliki jiwa bak laskar pembebas keterbelakangan yang tulus dan berani mengorbankan seluruh hidupnya demi anak bangsa. Satu lagi, sudahi program menciptakan kelinci-kelinci yang baru jika yang lama saja kalian biarkan mereka hidup merana dan mati mengenaskan.

Semoga kalian mendengar senandung miring ini.

Kami, kelinci yang hampir lupa jati dirinya!


=====
Catatan :
*Tulisan ini dibuat pada tanggal 1 Agustus 2016 sebagai wujud kekecewaan terhadap program pemerintah dalam menciptakan & mengelola pendidik yang berkualitas. Namun, setelah programnya selesai, objek dari program tersebut tidak dimanfaatkan, diabaikan dan dibiarkan memilih jalan hidup mereka sendiri. (Sudah seperti film Jason Bourne).
*Di tahun yg sama, melalui suara komunitas pendidik hasil program pemerintah tersebut, sekitar 6269 orang dipilih untuk dikirim oleh Kemendikbud ke daerah 3T di Indonesia, sebagai pendidik profesional yang mengabdi sampai sekarang, walaupun hingga kini masih ada hasil ciptaan program tersebut yang menganggur atau memilih profesi lain.

Comments

Popular posts from this blog

TUHAN Masih Menulis Cerita Cinta

Untukmu yang Pernah Kupanggil "Kekasih"

Traveling? Why Not?!

Untuk Calon Jodohku

Perihal Cinta

Biografi : Yuhersyani R. Benu

Merindu

Halusinasi

Menggenggam Asa