Hari Pendidikan Nasional : Mengukir Keabadian atau Mati Dini?


get.pxhere.com

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
― Pramoedya Ananta Toer.

Hari Pendikan Nasional: Mengukir Keabadian atau Mati Dini - Sengaja saya mengutip pernyataan Pramoedya Ananta Toer atau yang lebih dikenal dengan Mas Pram untuk menguji kadar kepekaan terhadap quote tersebut. Jika dibaca kisahnya, Mas Pram tetap menulis walaupun berada di penjara, tulisan-tulisannya pernah jaya pada masanya bahkan hingga sekarang masih "enak" untuk dinikmati. Raganya telah pergi tetapi karyanya (tulisan) masih dapat dinikmati bertahun-tahun, abadi.

Menulis menjadi "teror" yang menakutkan bagi sebagian orang Indonesia. Menulis dalam artian ini menurut KKBI yaitu melahirkan/menuangkan pikiran atau perasaan dalam bentuk tulisan yang teratur dan tertata. Alasan sebagian orang ketika mendengar atau diminta untuk menulis, yaitu malas, capek, bingung harus mulai menulisnya dari mana, malu, dan masih banyak alasan lainnya, padahal belum dicoba. 

Tidak heran jika orang Indonesia lebih suka menghabiskan banyak waktu untuk membaca status di media sosial, ketimbang menuliskan sesuatu yang bermanfaat untuk dibaca orang lain, lebih suka membuat status yang ambisius, kritikan yang bikin angguk-angguk kepala, namun, langsung dilupakan setelah 24 jam.

Apa permasalahannya? Menurut saya ada beberapa alasan yang membuat orang Indonesia malas menulis.

Tidak Ada Pembiasaan Sejak Dini

Sejak dibangku SD sampai bangku kuliah tidak ada kurikulum yang tepat, yang digunakan untuk pengembangan membaca dan menulis. Saya masih ingat saat mendapat pelajaran Bahasa Indonesia di bangku kuliah, dosen meminta untuk membuat karangan bebas. Betapa malunya ketika dosennya mengatakan bahwa karangan anaknya yang masih SD lebih bagus dari kami yang berstatus mahasiswa. 

Saat menjadi guru, sengaja saya berikan tes dalam bentuk penaralan, siswa malah mengeluh dan memilih tes dengan sistem pilihan ganda. Bukan cuma itu, laporan magang yang sudah "diwanti-wanti" untuk tidak menjiplak dari laporan angkatan sebelumnya, namun masih saja terjadi, turun temurun dan menjadi tradisi yang susah untuk dihilangkan.

Guru pun mengalami kendala yang sama, terjebak dalam rutinitas sehingga menulis merupakan pekerjaan membosankan. Karya ilmiah seperti Penelitian Tindakan Kelas dianggap memberatkan, tidak heran jika sebagian karya ilmiah yang tercipta adalah hasil prinsip CTRL C + CTRL V, cover boleh beda, isi dalamnya sama. Dalam kegiatan pembelajaran, guru malas menulis namun mewajibkan siswa untuk menulis.

Baca Juga : Traveling? Why Not?!

Malas Membaca dan Menulis

Membaca adalah referensi untuk menulis, dan menulis adalah menuangkan ide dan pemikiran dari hasil baca tersebut dalam bentuk tulisan. Membaca adalah kegiatan yang tidak membutuhkan banyak gerak, dan dapat dilakukan di mana saja, berbeda dengan menulis yang membutuhkan energi yang lebih banyak. Jika mau mengorbankan sedikit waktu untuk berselancar di Google.com, maka akan ditemukan banyak fakta tentang kurangnya minat membaca dan menulis di Indonesia bahkan untuk publikasi jurnal, Indonesia masih tertinggal dari Malaysia yang menurut sejarah, orang Malaysia pernah belajar ke Indonesia. Fakta lainnya dari malas membaca dan menulis adalah banyaknya berita hoaks yang tersebar di media sosial, sayangnya, itu dilakukan oleh orang-orang berintelek.

Tidak Menyadari Manfaat Menulis

Pernah baca kisah penulis buku Harry Potter yang terkenal itu? Yup! J. K. Rowlling, dari hobinya yang suka menulis, akhirnya menjadi penulis terkenal yang melegenda dengan novel fantasinya yang diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. 

Menulis tidak hanya dapat dilakukan sebagai hobi saja, namun dapat dijadikan sebagai profesi yang menghasilkan uang. Bangga kan jika hobi yang dikuasai dapat menghasilkan keping-keping rupiah?


Menulis perlu ketekunan, dan kemauan yang kuat, perlu dilakukan secara berulang-ulang, berkelanjutan. Jangan sampai pernyataan "Tidak memiliki bakat, biar orang lain yang menulis, saya jadi pembacanya saja", menjadi tameng yang mematikan imajinasi dan kreatifitas kita.

Semoga dunia pendidikan dapat merubah perilaku yang dituliskan di atas, agar makin banyak orang Indonesia yang hobi menulis. 

Menulislah selagi belum ada undang-undang yang melarang. Menulislah seperti kata Mas Pram, bekerja untuk keabadian. Asah kreatifitas dan imajinasi, abadikan ide dan perasaan itu melalui tulisan agar dunia tahu bahwa kita pernah hidup, pernah ada bersamanya. Jangan mau mati lebih dini karena tidak ada yang bisa untuk dikenang dari diri kita.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, Indonesia-ku!


Oleh :
Yuhersyani Rohesy

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

TUHAN Masih Menulis Cerita Cinta

Untukmu yang Pernah Kupanggil "Kekasih"

Traveling? Why Not?!

Untuk Calon Jodohku

Perihal Cinta

Biografi : Yuhersyani R. Benu

Merindu

Halusinasi

Menggenggam Asa