Purnama Terakhir

yuhersyani.blogspot.com



Mereka bilang, takkan ada lagi purnama seperti ini.
Ini purnama terakhir.
Kamu harus mengabadikan atau menyesal nantinya.

Ku berlari ke tepi jalan,
sedikit lebih jauh dari kerumunan penikmat purnama terakhir,
ada yang menarikku ke sana,
serpihan-serpihan purnama yang tertambat di dedaunan,
kemudian perlahan membatu,
namun masih memancar sinar yang tak kalah indah dengan aslinya.

Sebelum membatu,
kan kuukir dengan diksi-diksi indah,
sengaja tak kurangkai sebagai puisi penuh romantis.
Kau tau kenapa?
Kuingin biarkan imajinasimu memahami makna dari diksi-diksi itu,
Bolehkan?
Diammu menandakan setuju. Aku bahagia.

Kau boleh menyimpan semua serpihan purnama yang telah membatu itu,
Mungkin satu waktu, saat kulupa tentang kisah itu, kenangan,
kau bisa ingatkanku lagi.
biarku menebak, dan menemukan rasa itu lagi.

Comments

Popular posts from this blog

TUHAN Masih Menulis Cerita Cinta

Untukmu yang Pernah Kupanggil "Kekasih"

Traveling? Why Not?!

Untuk Calon Jodohku

Perihal Cinta

Biografi : Yuhersyani R. Benu

Merindu

Halusinasi

Menggenggam Asa