(Masih) Tentang Kita
"Kamu, yang semangat kerjanya ya! Ingat sarapan biar kamu bisa fokus selesaikan tugasnya. Daaann..Ingat, aku sayang kamu!"
Pesanmu sudah seperti sarapan untukku. Iyak, aku berkata sejujurnya karena belum sempat kaki ini melangkah ke meja makan, pesanmu lebih dulu masuk ke HP-ku yang "memaksa" untuk melayaninya terlebih dulu.
Aku suka berandai-andai tentang gerak gerikmu ketika mengucapkan pesan whatsapp tadi, sedikit manyun dan sebelah alismu terangkat serta matamu yang sedikit sipit itu menatapku tajam, seakan ingin mengatakan, "jangan berani macam-macam di luar sana", walaupun kenyataannya kamu tidak se-horor andaianku.π
Di lain hari, kamu mengirimkanku pesan yang berbeda, "Kamu sayang aku tidak?" Tanyamu seolah ingin menguji janji dan kesetiaanku, juga rasa cintaku.
Aku tidak langsung menjawab tanyamu.
Itu bukan pertanyaan sulit, aku hanya perlu menjawab "Ya" atau "Tidak", tapi ini tentang komitmen, ketulusan. Aku tidak ingin asal mengucapkannya.
"Kamu punya wanita lain?" Tanyamu lagi ketika aku berlama-lama memberi jawaban untuk pertanyaan sebelumnya.
Ahh, semakin banyak penjelasan yang harus kusampaikan agar kamu memahaminya. Tak apa jika kau memaksa, aku cuma punya beberapa kata untuk pertanyaan-pertanyaanmu itu,
"Aku mencintaimu dan kamu satu-satunya yang kupikirkan."
Apakah itu sudah cukup membuatmu puas mendengarnya? Aku tidak ingin berdebat untuk meyakinkan dirimu tentang rasa di dada.
Oya,
Boleh kan kutanyakan sesuatu padamu?
"Apa kamu yakin aku adalah jodohmu yang dikirimkan TUHAN untuk mendampingimu?"
Sepi seketika.
Comments
Post a Comment