Persimpangan
Hai TUHAN, apa kabr-MU hari ini???
oyaa.. apakah di tempat-MU juga sedang musim kemarau?
Mataku sudah tak kuat lagi menahan kantuk tapi ada yang ingin kutanyakan pada-MU.
Aku tak bisa tidur jika sedang memikirkan sesuatu.
Hmm,
TUHAN, apakah KAU pernah membuat suatu hal di luar kehendak-MU, yang sbenarnya tak ingin KAU lakukan???
itu yang kualami, yang kulakukan.
TUHAN, apakah aku terlihat terlalu melankolis, lemah menjalani hidup?
Baru sebentar kubuat keputusan, tetapi sesaat kemudian aku merevisinya. Aku labil.
Sedikit membela diri, ini berkaitan dengan ajaran-MU, tentang KASIH, PENGAMPUNAN, PEDULI. Ya, kadang aku berpikir bahwa tidak salah jika kuabaikan sebentar ajran-MU, dengan alih-alih, orang lain pun melakukan hal yang sama padaku, bahkan tanpa ampun, mereka tidak memikirkan apa yang kurasa. Namun, baru setengah perjalanan kuabaikan itu semua (ajaran-MU), aku merasa bersalah, ada sesuatu dalam diri ini yang menuduhku sebagai pecundang, bodoh. Aku menyesal TUHAN. Tak pantas aku yang seriang teriak bahwa "Aku anak-MU" melakukan hal itu.
TUHAN, seperti kataku tadi, apakah aku diciptakan dengan perasaan yang sangat melankolis hingga hal sepele itu pun masih sempat kupertimbangkan, sedangkan di luar sana, banyak yang menjalaninya tanpa beban. Begitu istimewakah mereka?
aghh TUHAN,
Cukupkan sudah rasa ini, aku terlalu lama terhanyut, takutku, aku tak mampu lagi membendung semuanya hingga membuatku menjadi pribadi yang pesimis. Namun, bila itu ingin-MU agar aku menjadi teladan bagi sesamaku, tak apalah, aku rela menerimanya, asal, jangan KAU buat aku menjadi insan yang lupa untuk menengadah memohon kekuatan pada-MU. Aku tak sanggup menjalani ini dengan kesedirianku.
TUHAN, maukah KAU memulihkan semua ini??
Maaf merepotkan disela sibuk-MU. Satu lagi TUHAN, tambahkan "kuota" KASIH bagiku, aku akan sangat membutuhkannya karena aku tak yakin akan selalu bahagia menerima, menjalani tantangan ini. Aku tau KAU mengetahui itu karena aku sudah sering mengatakannya pada-MU.
TUHAN, satu lagi ya? bolehkan?
tapi ini sangat rahasia, akan terasa bias jika kutuliskan di sini.
Aku sedang mengucapkannya di dalam hati. KAU mendengarnya kan TUHAN???
Itu saja yang kusampaikan.
Aku menanti janji-MU!
oyaa.. apakah di tempat-MU juga sedang musim kemarau?
Mataku sudah tak kuat lagi menahan kantuk tapi ada yang ingin kutanyakan pada-MU.
Aku tak bisa tidur jika sedang memikirkan sesuatu.
Hmm,
TUHAN, apakah KAU pernah membuat suatu hal di luar kehendak-MU, yang sbenarnya tak ingin KAU lakukan???
itu yang kualami, yang kulakukan.
TUHAN, apakah aku terlihat terlalu melankolis, lemah menjalani hidup?
Baru sebentar kubuat keputusan, tetapi sesaat kemudian aku merevisinya. Aku labil.
Sedikit membela diri, ini berkaitan dengan ajaran-MU, tentang KASIH, PENGAMPUNAN, PEDULI. Ya, kadang aku berpikir bahwa tidak salah jika kuabaikan sebentar ajran-MU, dengan alih-alih, orang lain pun melakukan hal yang sama padaku, bahkan tanpa ampun, mereka tidak memikirkan apa yang kurasa. Namun, baru setengah perjalanan kuabaikan itu semua (ajaran-MU), aku merasa bersalah, ada sesuatu dalam diri ini yang menuduhku sebagai pecundang, bodoh. Aku menyesal TUHAN. Tak pantas aku yang seriang teriak bahwa "Aku anak-MU" melakukan hal itu.
TUHAN, seperti kataku tadi, apakah aku diciptakan dengan perasaan yang sangat melankolis hingga hal sepele itu pun masih sempat kupertimbangkan, sedangkan di luar sana, banyak yang menjalaninya tanpa beban. Begitu istimewakah mereka?
aghh TUHAN,
Cukupkan sudah rasa ini, aku terlalu lama terhanyut, takutku, aku tak mampu lagi membendung semuanya hingga membuatku menjadi pribadi yang pesimis. Namun, bila itu ingin-MU agar aku menjadi teladan bagi sesamaku, tak apalah, aku rela menerimanya, asal, jangan KAU buat aku menjadi insan yang lupa untuk menengadah memohon kekuatan pada-MU. Aku tak sanggup menjalani ini dengan kesedirianku.
TUHAN, maukah KAU memulihkan semua ini??
Maaf merepotkan disela sibuk-MU. Satu lagi TUHAN, tambahkan "kuota" KASIH bagiku, aku akan sangat membutuhkannya karena aku tak yakin akan selalu bahagia menerima, menjalani tantangan ini. Aku tau KAU mengetahui itu karena aku sudah sering mengatakannya pada-MU.
TUHAN, satu lagi ya? bolehkan?
tapi ini sangat rahasia, akan terasa bias jika kutuliskan di sini.
Aku sedang mengucapkannya di dalam hati. KAU mendengarnya kan TUHAN???
Itu saja yang kusampaikan.
Aku menanti janji-MU!
Comments
Post a Comment